Technopreneur adalah gabungan dari kata technique dan entrepreneur yang artinya adalah orang yang mempunyai skill di bidang teknologi namun dapat membaca peluang usaha di bidang teknologi
Saat ini, kebanyakan lulusan IT hanya dapat menciptakan produk tetapi belum dilatih untuk menciptakan peluang usaha di bidang IT sendiri, padahal peluang bisnis di bidang IT sangatlah besar, mulai dari menciptakan produk/program ataupun menggunakan Teknologi tersebut menjadi sarana bisnis.
Bp Trianggoro Wiradinata, Ketua Jurusan Teknik Informatika menjelaskan bahwa Universitas di Amerika Serikat mulai banyak melatih orang orang yang mempunyai background non-bisnis untuk dapat menjadi seorang entrepreneur. Dimana infrastruktur IT telah terbentuk, mereka mulai dilatih untuk menjelajah kesempatan menciptakan peluang melalui teknologi.
Universitas Ciputra khususnya jurusan IT juga ingin melatih mahasiswanya untuk menciptakan peluang di bidang IT atau melalui teknologi, dimana Universitas lain banyak mencetak pekerja IT
Menurut Adhika Dwi Pramudita, salah seorang mahasiswa IT-UC, salah satu dasar pemilihannya untuk belajar di Universitas Ciputra, adalah keinginannya untuk menjadi tidak hanya seorang staff tetapi menjadi pemilik suatu usaha. Dan meskipun Adhika masih berada di semester 5, ia adalah owner dari PMC Multimedia dengan 3 staff dan 5 orang freelancer di Jakarta.
Sedang menurut Maria Tjahyadi, mahasiswa IT 06 lainnya, ia merasa tidak salah dalam memilih mengenyam ilmu di UC. Maria baru saja menjadi pemenang program ICT Roadmap Competition dari Senada – USAid. Program ini merupakan kerjasama Senada-USAid yang bertujuan untuk membantu UKM dengan mengumpulkan 100 mahasiswa untuk training dan akhirnya menempati magang di UKM untuk membantu meningkatkan bisnis mereka.
Menurut Maria, pihak Senada mengakui bahwa mahasiswa UC lebih terlihat menonjol karena selain mengetahui teknikal juga mengetahui proses bisnis. Hal tersebut disebabkan karena UC mengajarkan semua jurusannya tentang bisnis pada matakuliah entrepreneurship yang berkelanjutan hingga 6 semester. Ditegaskan oleh Trianggoro, entrepreneurship di Universitas Ciputra digabungkan dengan mata kuliah jurusan, bahkan untuk tugas akhir mahasiswa diminta membuat bisnis plan untuk persiapan pembukaan usahanya setelah mereka lulus.
Memang saat ini banyak sekali Universitas yang memakai ‘brand’ entrepreneurship akan tetapi dalam faktanya hal tersebut hanyalah sebuah logo belaka, UC menerapkan entreprenurship berdasarkan survey lapangan yang menginginkan lulusan IT harus mengerti tentang proses bisnis, sehingga Universitas Ciputra akhirnya membuat kurikulum dimana semua mahasiswa didik untuk mengetahui proses bisnis seperti market riset, peluang usaha sehingga sewaktu mereka lulus, mereka dapat menjadi seorang entrepreneur sesuai jurusannya
Lembaga pendidikan lain mungkin banyak yang meng’klaim’ untuk menciptakan entrepreneur, akan tetapi kebanyakan adalah training dan belum memiliki gelar. Universitas lainpun biasanya hanya mempunyai 1 matakuliah entrepreneurship yang mana hanya diajarkan secara teori, Universitas Ciputra mengajarkan entrepreneurship bukan hanya dalam teori, tetapi mereka juga diterjunkan dalam praktek pembelajaran secara nyata yang dimentoring.
Pada semester III, biasanya mereka akan membuka retail untuk mengeksekusi bisnis mereka selama 4 minggu berturut turut sehingga dapat merasakan pengalaman dalam dunia bisnis. Menurut Maria, memang mengalami kesulitan pada saat praktek merupakan hal yang biasa, akan tetapi proses mentoring yang dilakukan oleh dosen UC sangat membantu mahasiswa dalam melewati kesulitan tersebut.
Pada session Tanya jawab tercetuk kekhawatiran, apakah seorang pendiam bisa sukses menjadi entrepreneur. Trianggoro menjawab bahwa pendiam bukanlah merupakan suatu kelemahan, karena anak pendiam mempunyai kekuatan dalam market sensitivity, inovasi dan kreativitas. Sedangkan banyaknya praktek berkelompok di UC dapat membuat anak menjadi lebih terbuka.
Tujuan praktek sendiri lebih membuat mahasiswa lebih mengenal dunia nyata lebih dini, dan dapat merasakan bagaimana memulai bisnis di dunia nyata. Kegagalan di masa perkuliahan merupakan suatu efek terkontrol yang dapat dibuat menjadi bahan pembelajaran di semester berikutnya. Hal tersebut membuat mahasiswa lebih peka di masa mendatang, sehingga mereka mendapat satu point lebih daripada seseorang lulusan yang belajar untuk memulai bisnis di dunia nyata.
(rangkuman talkshow SSFM dan UC)