h1

Ir Ciputra menerima 2 penghargaan MURI

September 6, 2009

pak ci penghargaan

Tanggal 24 yang lalu, Ir Ciputra menerima 2 penghargaan MURI sekaligus untuk kategori Entrepreneur yang menerima penghargaan terbanyak dan kategori penyelenggaraan pelatihan kepada 1231 dosen di Indonesia pada saat perayaan Ulangtahunnya ke 78 di Ciputra World Jakarta.

Penghargaan yang didapat Ciputra hingga saat ini adalah 42 penghargaan di berbagai bidang yang mana telah melewati entrepreneur dunia yang terkenal. Adapun penghargaan penghargaan tersebut adalah
1. Bidang bisnis : 8 penghargaan
2. Bidang budaya : 1 penghargaan
3. Bidang Olahraga : 5 penghargaan
4. Bidang Pariwisata : 2 penghargaan
5. Bidang Pembangunan : 1 penghargaan
6. Bidang Pendidikan :10 penghargaan
7. Bidang Profesi :1 penghargaan
8. Bidang Real Estate :12 penghargaan
9. Bidang Sosial : 2 penghargaan
Untuk TOT foundation, UCEC menyusun sebuah model pembelajaraan entrepreneurship yang berakar pada kesuksesan Ciputra dalam kehidupan entrepreneurnya. Model ini telah dengan berhasil diimplementasikan untuk menghasilkan entrepreneur-entrepreneur muda lewat kerja sama dengan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Universitas Ciputra Surabaya.

pelatihan entrepreneurship kepada dosen terbanyak

disadur : Manado Post
MURI

h1

Maria Tjahjadi, IT’06, detripplaner.com; up to 4 juta/proyek

August 25, 2009

Maria Tjahjadi
Information Technology ‘06
detripplanner.com; online tour planner
Omset : up to 4 jt

Maria bersama P Ciputra, 24 Agst 09.

Maria bersama P Ciputra, 24 Agst 09.

Menjadi mahasiswa IT belum tentu harus kuper terhadap pergaulan maupun proses bisnis, itulah yang kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa UC pada umumnya dan Maria pada khususnya.

Membandingkan dirinya dengan yang lain, Maria merasa dirinya berbeda karena selain mengerti teknikal dalam programming, ia juga mengerti bagaimana menghadapi klien dan memberikan solusi dalam proses bisnis yang tengah dihadapi oleh klien. Pemenang ICT Roadmap 2009 yang diadakan oleh Cisco & USAid ini mengatakan bahwa pihak CISCO sendiri mengakui kelebihan dari mahasiswa UC dalam hal soft skillnya.

Terdorong dengan ilmu entrepreneurship yang didapatnya, saat ini Maria dan kedua temannya sedang membuat website baru yang nantinya dapat menjadi acuan backpacker untuk berpetualang di Indonesia.

Ide membuat website ini dimulai dari pengalaman pribadinya ketika menjadi backpacker di Malaysia. Maria tidak dapat menemukan tempat tempat rekreasi atau penginapan terjangkau seperti yang ia inginkan di website manapun. Hal itu yang membuatnya berpikir, alangkah baiknya bila ada website yang dapat membantu para backpacker untuk memilih tempat tujuan wisata dengan dana terbatas.

Di saat tour planner lainnya membuat website yang lebih pasif-informatif, Maria ingin menjadikan websitenya aktif-interaktif. Dalam konsep website ini, selain memberikan informasi mengenai pusat pariwisata, ia juga memberikan sarana untuk konsultasi online sehingga mereka bisa menentukan paket tur yang mereka inginkan sebelum akhirnya memutuskan untuk berlibur.

Dalam teori Entrepreneurship yang diajarkan di Universitas, Maria merasa telah mengaplikasikan semuanya dalam usaha ini, seperti market sensitivity , management dan accounting. Jadi meskipun ia adalah mahasiswa IT, tetapi ia sangat beruntung dapat mengerti proses start up business yang menghantarkannya menjadi entrepreneur muda.

Maria juga berkesempatan seperti mahasiswa UC lainnya untuk memberikan proposal bisnis kepada Group Ciputra yang nantinya bila proposal tersebut sangat menarik, Group Ciputra akan memberikan modal untuk usahanya. Demikian yang dikatakan oleh Bp Ciputra kepada Maria disela perayaan Founders Day , 24 Agustus 2009 yang lalu di Jakarta

“detripplanner.com”
kontak person:
* Maria Tjahjadi – 0817 48 99824
* Rosida Rachmawati
* Ricardo Ryan

h1

William Januar T & Enrico Lazuardy, Importer Genset

August 21, 2009

William Januar Tedjo, IBM 07
Enrico Lazuardy, IBM 07
Importer Genset, Subur Rejeki Nusantara
omset, up to 1Milliar

Melihat peluang usaha ternyata dapat dilakukan di segala bidang dan di segala suasana, demikianlah yang dilakukan oleh William dan Enrico Lazuardy ketika menangkap peluang usaha dalam perbincangan umum dengan teman dan issue yang ada di Indonesia.

William melihat bahwa Indonesia pada khususnya Indonesia Timur saat ini mengalami kekurangan pasokan energi yang akhirnya menyebabkan listrik tidak stabil atau bahkan banyaknya pemadaman di kota kota.
Ketika melihat hal tersebut, berdua dengan Enrico mencoba untuk mendalami pangsa pasar untuk Genset.

Setelah melihat bahwa belum banyaknya pesaing yang memasok Genset di Indonesia Timur, mereka akhirnya melakukan riset ke supply genset yang dibutuhkan didaerah tersebut hingga ke China.

Di China mereka menemukan suatu desa yang pen-supply genset terbesar di dunia yang menjadikan William makin terdorong untuk mengambil peluang tersebut dan mencoba memasarkan dengan harga yang lebih terjangkau.

Passion yang mereka miliki terdorong dari Entrepreneurship yang terus menerus ditekankan oleh Universitas dan Jurusan sejak ospek hingga dalam kurikulum pelajaran. Didukung dengan mentoring dosen dan juga mata kuliah export-import dan mata kuliah bisnis execution membuat mereka akhirnya bisa merealisasikan bisnis ini.

Pemasaran yang mereka lakukan saat ini telah mencapai Merauke, Papua, Biak dan Samarinda. Dan dalam 5 tahun mendatang, mereka akan merencanakan proyek manufaktur yang diperlukan untuk menembus pasar yang lebih besar di Indonesia

Membandingkan dengan teman teman seumurnya, William dan Enrico merasa kebih diatas mereka karena disaat teman teman mengejar selembar ijasah S1/S2 dan bekerja untuk orang lain, mereka sudah dapat mempekerjakan orang lain untuk menjalankan bisnis mereka dengan profit yang jauh lebih tinggi dan perencanaan yang matang

Produk yang ditawarkan :
Genset GF2 – GF3 (5KW – 100 KW)
Altenator ST – STC series (ST3 – ST50)

Genset River

Kontak person :
William
Margomulyo Permai AF 40
ph. 031-734 6547
fax. 031 734 9316
email. suburrejeki@yahoo.com
website. www.yellowrivergenset.co.cc

h1

Technopreneur ciptakan peluang dari perkembangan IT

August 19, 2009

Technopreneur adalah gabungan dari kata technique dan entrepreneur yang artinya adalah orang yang mempunyai skill di bidang teknologi namun dapat membaca peluang usaha di bidang teknologi

Saat ini, kebanyakan lulusan IT hanya dapat menciptakan produk tetapi belum dilatih untuk menciptakan peluang usaha di bidang IT sendiri, padahal peluang bisnis di bidang IT sangatlah besar, mulai dari menciptakan produk/program ataupun menggunakan Teknologi tersebut menjadi sarana bisnis.

Bp Trianggoro Wiradinata, Ketua Jurusan Teknik Informatika menjelaskan bahwa Universitas di Amerika Serikat mulai banyak melatih orang orang yang mempunyai background non-bisnis untuk dapat menjadi seorang entrepreneur. Dimana infrastruktur IT telah terbentuk, mereka mulai dilatih untuk menjelajah kesempatan menciptakan peluang melalui teknologi.

Universitas Ciputra khususnya jurusan IT juga ingin melatih mahasiswanya untuk menciptakan peluang di bidang IT atau melalui teknologi, dimana Universitas lain banyak mencetak pekerja IT

Menurut Adhika Dwi Pramudita, salah seorang mahasiswa IT-UC, salah satu dasar pemilihannya untuk belajar di Universitas Ciputra, adalah keinginannya untuk menjadi tidak hanya seorang staff tetapi menjadi pemilik suatu usaha. Dan meskipun Adhika masih berada di semester 5, ia adalah owner dari PMC Multimedia dengan 3 staff dan 5 orang freelancer di Jakarta.

Sedang menurut Maria Tjahyadi, mahasiswa IT 06 lainnya, ia merasa tidak salah dalam memilih mengenyam ilmu di UC. Maria baru saja menjadi pemenang program ICT Roadmap Competition dari Senada – USAid. Program ini merupakan kerjasama Senada-USAid yang bertujuan untuk membantu UKM dengan mengumpulkan 100 mahasiswa untuk training dan akhirnya menempati magang di UKM untuk membantu meningkatkan bisnis mereka.

Menurut Maria, pihak Senada mengakui bahwa mahasiswa UC lebih terlihat menonjol karena selain mengetahui teknikal juga mengetahui proses bisnis. Hal tersebut disebabkan karena UC mengajarkan semua jurusannya tentang bisnis pada matakuliah entrepreneurship yang berkelanjutan hingga 6 semester. Ditegaskan oleh Trianggoro, entrepreneurship di Universitas Ciputra digabungkan dengan mata kuliah jurusan, bahkan untuk tugas akhir mahasiswa diminta membuat bisnis plan untuk persiapan pembukaan usahanya setelah mereka lulus.

Memang saat ini banyak sekali Universitas yang memakai ‘brand’ entrepreneurship akan tetapi dalam faktanya hal tersebut hanyalah sebuah logo belaka, UC menerapkan entreprenurship berdasarkan survey lapangan yang menginginkan lulusan IT harus mengerti tentang proses bisnis, sehingga Universitas Ciputra akhirnya membuat kurikulum dimana semua mahasiswa didik untuk mengetahui proses bisnis seperti market riset, peluang usaha sehingga sewaktu mereka lulus, mereka dapat menjadi seorang entrepreneur sesuai jurusannya

Lembaga pendidikan lain mungkin banyak yang meng’klaim’ untuk menciptakan entrepreneur, akan tetapi kebanyakan adalah training dan belum memiliki gelar. Universitas lainpun biasanya hanya mempunyai 1 matakuliah entrepreneurship yang mana hanya diajarkan secara teori, Universitas Ciputra mengajarkan entrepreneurship bukan hanya dalam teori, tetapi mereka juga diterjunkan dalam praktek pembelajaran secara nyata yang dimentoring.

Pada semester III, biasanya mereka akan membuka retail untuk mengeksekusi bisnis mereka selama 4 minggu berturut turut sehingga dapat merasakan pengalaman dalam dunia bisnis. Menurut Maria, memang mengalami kesulitan pada saat praktek merupakan hal yang biasa, akan tetapi proses mentoring yang dilakukan oleh dosen UC sangat membantu mahasiswa dalam melewati kesulitan tersebut.

Pada session Tanya jawab tercetuk kekhawatiran, apakah seorang pendiam bisa sukses menjadi entrepreneur. Trianggoro menjawab bahwa pendiam bukanlah merupakan suatu kelemahan, karena anak pendiam mempunyai kekuatan dalam market sensitivity, inovasi dan kreativitas. Sedangkan banyaknya praktek berkelompok di UC dapat membuat anak menjadi lebih terbuka.

Tujuan praktek sendiri lebih membuat mahasiswa lebih mengenal dunia nyata lebih dini, dan dapat merasakan bagaimana memulai bisnis di dunia nyata. Kegagalan di masa perkuliahan merupakan suatu efek terkontrol yang dapat dibuat menjadi bahan pembelajaran di semester berikutnya. Hal tersebut membuat mahasiswa lebih peka di masa mendatang, sehingga mereka mendapat satu point lebih daripada seseorang lulusan yang belajar untuk memulai bisnis di dunia nyata.

(rangkuman talkshow SSFM dan UC)

h1

How to learn to be an Entrepreneur

August 6, 2009

UC2

Bagaimana cara berlatih untuk menjadi entrepreneur…? Sebenarnya pertanyaan ini sangat mudah untuk dijawab, menurut buku Quantum Leap – dari Dr Ir Ciputra, Entrepreneur itu didasari oleh 3L, yakni lahir, lingkungan dan Latihan.

Lahir dimaksudkan bilamana seseorang dilahirkan oleh seorang entrepreneur/pengusaha, maka ia akan dididik bagaimana cara untuk berusaha atau memulai usaha. Ia juga akan melihat bagaimana orangtuanya berusaha.

Sedang berdasarkan lingkungan adalah bila dalam lingkungan dimana kita dibesarkan atau dimana kita banyak menghabiskan waktu kita bersama dengan entrepreneur atau pengusaha, akan mengubah mindset berpikir kita untuk menjadi entrepreneur pula

Yang terakhir adalah latihan/pendidikan. Seseorang kan lebih berhasil menjadi entrepreneur apabila ia menjalani pelatihan, maka kepekaan terhadap peluang binis baru, kepekaan kepada market akan lebih terasah.

Universitas Ciputra
memberikan kurikulum tepat untuk melatih semua orang yang bercita cita menjadi seorang entrepreneur. Setiap orang akan dilatih untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan nyata sejak berkuliah semester 1.

Pelatihan entrepreneurship bukan hanya ditujukan kepada calon yang berminat di bidang ekonomi, akan tetapi UC memberi pelatihan di semua bidang seperti
* Internasional Business Management (IBM)
* Tourism and Hotel Management (THM)
* Information Technology (IT)
* Architecture Interior (ID)
* Visual Communication design (VCD)
* Psychology (PSY)
Setiap mahasiswa akan diberikan ilmu entrepreneurship yang telah dilebur dalam kurikulum standard jurusan sehingga alumny UC akan menjadi Entreperneur di segala bidang yang diminatinya.

UC membuka pendaftaran
* Jalur Prestasi (khusus sekolah kerjasama)
– Prestasi Akademik
– Prestasi Olah raga
– Prestasi Kesenian

* Jalur Kerjasama
– bilamana sekolah anda berada di dalam list sekolah kerjasama UC

* Jalur Umum
– bilamana sekolah anda tidak berada di dalam list sekolah kerjasama UC

Universitas Ciputra juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin berkeliling kampus (Touring) baik personal maupun untuk sekolah,

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi
Marketing UC
Waterpark Boulevard
031- 745 1699 (ext 1001 – 1005)
www.ciputra.ac.id

Formulir pendaftaran dapat dibeli di
* sekolah kerjasama
* marketing UC
* online/pdf di www.ciputra.ac.id

h1

ID-preneur mempersiapkan mahasiswa untuk “memakai’ pegawai

August 6, 2009

Seperti tema diatas, program study Arsitektur Interior tidak mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pegawai, akan tetapi ‘memakai’ pegawai dengan kata lain menjadi Entrepreneur, yang membuka lapangan kerja bagi orang lain, kata kata yang setiap kali didengungkan oleh Bp Ciputra di setiap kesempatan.

Hal tersebut adalah tema yang diangkat oleh program Study ArsitekturInterior pada pembicaraan tentang Universitas CIputra di Suara Surabaya, rabu sore (5/8/09) tadi.Universitas Ciputra mencetak mahasiswa yang berkompentensi tidak hanya mendesign produk interior, akan tetapi juga dapat menjual produk yang di design-nya.

Chendikia & Marilyn

Menurut Chendikiawati, kepala jurusan Arsitektur Interior, program study ini meleburkan entrepreneurship dalam kurikulumnya sehingga design yang dihasilkan oleh mahasiswa sudah mengadopsi dari keinginan pasar. Modal memang penting tetapi menurutnya daya kreasi dan inovasi adalah yang terutama untuk sukses.

Universitas sangat memperhatikan mahasiswa dan lulusannya, karena setiap dosennya menyediakan waktu untuk mentoring, dan adanya incubator business yang dapat membimbing bisnis mahasiswa menjadi lebih sukses.

Marilyn Khoe, smst 7, membenarkan bahwa UC tidak mengajarkan hanya membuat motif saja, bahkan pada semester 6 yang lalu ia sudah mencoba dan melihat pasar Nasional dan Internasional. Jika Marilyn membandingkan dirinya dengan teman teman yang di Universitas lain, ia merasa lebih beruntung karena di tempat lain tidak diajarkan bagaimana berbisnis sehingga karya mereka belum tentu sesuai dengan permintaan pasar sedang ia telah dilatih untuk membaca pasar pada semester 1 hingga 3.

Kemampuan entrepreneur mahasiswa UC juga telah dirasakan oleh Aprilia Karuniawati Sugiyono , mahasiswa ‘07, pada proyeknya semester sebelumnya, ia menginovasi sebuah handuk dengan memberi aromaterapi dan bentuk bentuk lucu seperti teddy bear dan berhasil menjual produk tersebut hingga Jakarta dan Tasikmalaya

Seperti yang diinformasikan sebelumnya, semua proyek Interior selalu mengacu pada proyek nyata. Pada semester 4 yang lalu, Aprilia berhasil untuk memberi inovasi detail kepada renovasi sebuah salon di Surabaya yang mengacu pula kepada pengamatan terhadap sirkulasi manusia di salon tersebut. Design Aprilia akhirnya juga direalisasikan oleh salon tersebut.

Marilyn sendiri telah berhasil menawarkan konsep rebranding kepada perusahaan kosmetik terkemuka di semester 5 dan sedang direalisasikan di 2 kota besar.

Dengan adanya proyek-proyek yang langsung berhubungan dengan klien , mahasiswa Universitas Ciputra akan terlatih untuk mengetahui keinginan pasar pada saat mereka masih mahasiswa. Mereka akan dilatih untuk dapat mendapat berkomunikasi, presentasi hingga menjualkan produk-produk mereka kepada calon pelanggannya.

all team

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi…
Universitas Ciputra
www.ciputra.ac.id
031-745 1699

h1

Jeniffer Smith, IBM 08, Goodies

August 5, 2009

Jeniffer Smith, IBM 08
Goodies, Event Organiser, omset 10 juta per bulan
Finalist YEA 5 besar kelas pemula, perwakilan Surabaya

goodies1

Proyek EO ini dimulai sejak matakuliah Entrepreneur2, yang pada saat itu Jennifer berpikir bahwa penjualan jasa akan memberikan profit lebih besar daripada penjualan produk sehingga tim membentuk event organiser, dengan nama Goodies.

Pemasaran Goodies diarahkan ke gathering orang tua dan sekolah sekolah, dengan segala manfaat dan benefit yang cukup berguna untuk anak anak.

Perbedaan Goodies dengan event organizer yang lain adalah pembuatan event yang menekankan kepada makna dari event itu sendiri, seperti event Paskah yang biasa diidentikkan dengan “day of giving”, maka pada saat itu, mereka memberi event yang mana anak anak dapat memberikan hasil karyanya sendiri kepada anak yang belum beruntung.

Berbeda dengan event kemerdekaan lainnya yang lebih memperlihatkan pesta, Goodies menciptakan yang dapat mengenalkan anak anak kepada makanan tradisional dan budaya batik sehingga sejak muda mereka telah mencintai budaya mereka.

Sedang program field trip yang ditawarkan mencoba untuk melatih fokus dan kesabaran anak dengan olah raga golf. Bahkan untuk acara ulang tahun, Goodies juga memberikan pelatihan seperti clay kepada anak anak sehingga mereka mendapatkan ilmu tambahan yang berguna.

Menurut Jeniffer, proyek ini telah melatihnya untuk menciptakan ide kreatif dan mengajarkan bagaimana cara untuk membangun relasi. Bahkan ia merasakan perbedaan pribadinya setelah adanya pendidikan entrepreneurship ini karena ia lebih mampu melihat peluang bisnis waktu luang daripada rekan pelajar seusianya yang belum mengerti tentang entpreneurship

goodies halfgoodies other half

Anggota Team:
Sekretaris : Jessica Novia Joeswanto
Bendahara : Robert Setiawan
Evan Sutanto
Operational: Devin Effendy
Anthony Wijaya
Richard Sudibyo
Michael Chandra
Weinandi
Bobby Gunarso
Nomor contact: 0859 3123 0986
Email contact : eo_goodies@yahoo.com

h1

Widya Budiman, Interior design ‘06, Batik Modern

July 30, 2009

Widya Budiman
Interior 2006, “Home Java Weaving”

HJW designer

namecard front

Home Java Weaving adalah perusahaan kecil yang didirikan September 2008 oleh 12 orang mahasiswa UC dalam rangka proyek mata kuliah Entreperneurship Interior Design smstr 2 yang mana mengangkat batik modern yang diaplikasikan sebagai aksesoris interior, antara lain: cushion cover, table runner, bedcover, napkin dan plate mate.

Bisnis ini kemudian berkembang dan kemudian dijadikan project Eksport pada mata kuliah Entrepreneurship 5 untuk mengikuti pameran INTERNATIONAL TRADE (INTRADE) di Kuala Lumpur, Malaysia

Kenapa batik? Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak dahulu kala. Namun sekarang jaman semakin modern, masyarakat pun kurang suka dengan hal-hal yang “berbau” tradisional.

Batik ternyata bilamana d diaplikasikan pada interior dapat menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi dan tidak dilupakan begitu saja. Oleh karena itu kami menganggap bisnis ini sangatlah berprospek untuk sekarang maupun ke depannya.

Proyek ini diikuti oleh
Marilyne Mintarko, Andrea Sharon, Novita Tanujaya, Filven Tan, Yesika, Loura Dewi, Yulianto, Ganitra, Owen, Singgih dan Christopher

untuk pemesanan bisa di
Homejavaweaving.blogspot.com
batik-widbatik2price list

h1

Psychopreneur menjawab tantangan masa depan lulusan Psikologi

July 22, 2009

Tidak disangka, semua bentuk ilmu sebenarnya bisa di’blend dengan ilmu entrepreneurship. Sepertinya entrepreneurship saat ini bukan hanya merupakan suatu keilmuan di bidang ekonomi saja, bahkan Ilmu psikologipun dapat dibaurkan dengan ilmu entrepreneurship yang nantinya akan menghasilkan Psycopreneur2 muda. Entrepreneur inilah yang diharapkan dapat menjawab tantangan di masa depan

Psychology UC bukan hanya sekedar hardskill seperti yang diajarkan di jurusan Psychology lainnya. UC menawarkan pembelajaran yang berbeda yang mana aplikasi bisnis dalam bidang psikologi akan diajarkan dan dipraktekkan dalam kurikulum pengajarannya.

Tiga peminatan yang bisa dipelajari di UC adalah Creative industry, Kecantikan dan kesehatan serta Pendidikan abad 21. Yang mana ketiga hal ini merupakan peluang yang besar saat ini. Dalam pengajarannya, Psikologi-UC mengajarkan mulai dari mempunyai kepekaan terhadap individual, menggali kebutuhan, merancang proyek dan mengaplikasikannya ke dalam dunia nyata.

Banyak orang masih memandang miring terhadap ilmu Psykologi, akan tetapi ternyata psikologi adalah ilmu yang luas, karena dimana ada manusia (bahkan klien) maka ilmu psikologi akan diterapkan. Ilmu psikologi bahkan bisa membaur dengan ilmu lainnya, seperti design komik, film, dsb, yang mana bila seseorang telah mendalami ilmu psikologi maka hasilnya akan makin terasa.

Seperti Jerry Bruckheimer, produser film terkenal CSI adalah seseorang yang telah berhasil memakai ilmu psikologi dalam film2nya. Begitu pula Wesley Craven yang berhasil dalam filmnya Scream, Drakula dan Freddy vs Jason.

Selain itu, bukti dari UC seperti Wawan Wongso, yang telah dibahas artikel lain, merupakan salah satu mahasiswa yang telah sukses mempergunakan ilmu psikologi nya dan membaurkan dengan ilmu lainnya yakni musik yang telah menghasilkan studio musik yang berbeda dengan studio musik lainnya dengan model mentoringnya.

SSFM talkshow
Pembahasan ini telah dibahas di Suara Surabaya, 22 Juli 2009 yang lalu

h1

Kenapa Entrepreneurship di level Universitas itu perlu?

July 17, 2009

Banyak entrepreneur (wirausahawan) terjebak dengan waktu. Imbasnya, keberhasilan yang diraih rata-rata setelah lebih dari 10 tahun berusaha.

Padahal, seharusnya keberhasilan itu bisa dipercepat. Dan universitas bisa mengkondisikan untuk mempercepat keberhasilan itu. Demikian ungkap BO FISHBACK Vice President dari Ewing Marion Kuaffman Foundation dalam seminar “Aplikasi Pendidikan Entrepreneurship” di Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (15/07).

Menurut BO, ada 3 hal yang bisa dilakukan universitas untuk mengkondisikan mahasiswanya. Pertama, melalui kurikulum Entrepreneurship Appreciated. “Mata kuliah ini diberikan pada tahun awal perkuliahan. Meski nantinya mahasiswa tidak ingin menjadi seorang wirausahawan, namun dia akan mengerti apa itu entrepreneurship dan cara menjadi seorang entrepreneur,”ujar BO.

Hal kedua, ungkap BO, universitas harus bisa menjadi agent of change. Ini dilakukan dengan cara memberikan kesempatan mahasiswa melihat beragam problema dunia luar. Karena dari sinilah akan muncul kesempatan menciptakan peluang baru.

Ketiga, BO menyebut, educated entrepreneurship mindset. Ia mencontohkan keberhasilan Stanford by Design dan universitas di Texas mendorong mahasiswanya untuk mendapatkan ide dan diaplikasikan dalam business plan secara nyata.

Para mahasiswa di Stanford by Design disuruh mengamati proses interaksi yang ada dalam sebuah rumah sakit selama 2 bulan. Kemudian mereka dimasukan dalam ruangan dan dikunci. Mereka baru keluar setelah menemukan 400 ide gila. Dari 400 ide tersebut dikerucutkan menjadi 3 ide terbaik. Ide dikaji dari sisi fisibilitasnya dan diterjemahkan dalam business plan.

“Sedangkan di Texas, 200 mahasiswa disuruh menjual produk dengan kualitas buruk ke masyarakat. Ini hal yang sulit karena kualitas produk jelek dan susah dijual. Namun yang bisa diambil adalah sebuah pembelajaran agar mahasiswa mengalami penolakan saat menjual produk. Dan para mahasiswa memiliki beragam alasan penolakan saat menjual produk,”paparnya.

saduran sumber:
http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=cacb3acbb517d71c1ecca688f371e04d200967186Bo fishback